Persoalan Menurunnya Prestasi Lionel Messi Di Argentina

Persoalan Menurunnya Prestasi Lionel Messi Di Argentina

Argentina adalah gudangnya pemain bintang. Mereka, selain punya Paulo Dybala, Mauro Icardi, dan Angel di Maria, juga punya Lionel Messi. Adalah sebuah dosa besar jika tim berjuluk Albiceleste tersebut tak bisa menjuarai Piala Dunia Rusai 2018 mendatang. Terakhir kali Argentina menjadi Piala Dunia yaitu pada tahun 1986. Gelar tersebut tak lepas dari peran penting Diego Maradona yang bisa mencetak gol ‘Tangan Tuhan’ ke gawang Inggris dalam perempat final menghadapi Inggris kemudian mengalahkan Jerman Barat 2-3 di partai final. Setelah itu, Argentina tak pernah juara lagi.

Pada 2005, harapan Argentina untuk jadi juara dalam kompetisi paling akbar di dunia tersebut kembali membuncah. Pasalnya waktu itu, muncul bocah yang memiliki talenta besar dan diharapkan bisa menjadi penerus Maradona. Dialah Lionel Messi. Tahun itu, Messi menjalani debutnya bersama tim nasional dan juga sukses mengantarkan tim nasional Argentina U-20 menjuarai Piala Dunia.

Namun perjalanan Lionel Messi bersama timnas Argentina senior ternyata tak pernah mudah. Di Barcelona, prestasi Messi memang sangat gemilang. Ia telah merasakan berbagai gelar sebagai tim dan juga menyabet sederet prestasi individu, mulai dari gelar La Liga, Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, dan lima kali memenangkan Ballon d’Or. Lalu apa prestasi Messi bersama Argentina sejak menjalani debut di tim senior? Nol.

Pemain yang saat ini berusia 30 tahun tersebut sempat hampir menyerah dari timnas setelah mengalami kekalahan di final Copa America 2016. Ia lantas memutuskan pensiun dini. Namun kemudian, ia ‘menelan ludahnya sendiri’ karena tak lama setelah itu, Messi memutuskan kembali bermain untuk timnas.

Sampai saat ini, perjalanan Messi bersama Argentina pun belum juga mulus. Ketika Piala Dunia 2018 akan segera bergulir di Rusia tahun depan, Argentina terancam tak lolos. Mereka baru saja mendapat hasil kurang memuaskan kala bertemu Peru di babak kualifikasi. Hal itu membuat Argentina kini masih tertinggal di peringkat enam klasemen sementara sedangkan peringkat lima untuk jalur playoff ditempati Peru. Memang, Argentina masih punya peluang lolos di satu pertandingan tersisa. Namun peluang itu bisa dikatakan kecil.

Messi belum bisa bicara soal prestasinya bersama Argentina. Kontribusinya bersama Argentina memang berbanding terbalik jika dibandingkan kala bermain untuk Barcelona. Masalah ini yang membuat publik Argentina gemas terhadap Lionel Messi. Di Barca, Messi bisa begitu tapi kalau di timnas kok begini. Berbeda.

Persoalan Menurunnya Prestasi Lionel Messi Di Argentina

Messi, antara di Barca dan Argentina

Messi bisa bermain baik di Barcelona karena pemain 30 tahun tersebut bermain lebih banyak bermain di sana. Tentu saja ia lebih dekat dengan klub Catalan tersebut. Lebih kenal dengan segala hal menyangkut tim.

Sebagai pemain yang menyandang status pemain terbaik dunia lima kali, ia mendapat respek lebih besar dari rekan-rekannya di Barca. Ia dimanjakan sedemikian rupa karena rekan-rekannya begitu percaya dengan magis yang akan diciptakan Lionel Messi.

Sementara itu, ketika bermain di timnas, ia hanya bermain dalam beberapa kesempatan saja, persiapannya pun terbatas untuk menyambut satu pertandingan. Bagi sebagian pemain, proses adaptasi dengan timnas memang bukan menjadi masalah. Buktinya, Cristiano Ronaldo bisa moncer bersama timnas dan bisa menjuarai Piala Eropa bersama Portugal tahun lalu; Neymar juga bisa menyabet gelar medali emas di Olimpiade bersama Brasil.

Sulitnya adaptasi ini tak terlepas dari pengalaman Messi. Sejak awal, Messi hanya bermain di Barca. Ia tak pernah pindah dari satu klub ke klub lain selama menjadi pemain profesional. Hal ini juga bisa menjadi indikasi bahwa Messi mungkin juga akan gagal jika bermain di luar Barcelona. Messi yang dikenal sebagai orang pemalu mungkin juga sedikit memberi pengaruh kenapa ia kesulitan bersinar di Argentina.

Membuat Argentina seperti Barcelona

Untuk mengatasi masalah tersebut, pelatih Argentina sekarang, Jorge Sampaoli, harus segera mengambil tindakan. Ia harus bisa menjadikan Argentina bak Barcelona bagi Messi. Di Barca, Messi menjadi fokus utama ketika menyerang. Pun demikian semestinya di Argentina. Ketika pemain lain mendapatkan bola, Lionel Messi harus menjadi prioritas. Messi tampaknya belum mendapatkan perlakukan seperti itu di timnas.

Xavi yang pernah bermain di Barcelona bersama dengan Lionel Messi mengungkapkan bahwa Messi memang gampang kecewa jika terlalu lama tak mendapatkan bola. Messi selalu ingin terlibat dalam setiap pergerakan bola.

“Barcelona dan Argentina tidak boleh walaupun hanya sepuluh menit bermain tanpa Messi. Dia harus, di manapun berada, dan meskipun tidak tidak ada di sana, bawalah bola kepada Messi. Lionel Messi yang akan menentukan segala yang terjadi untuk tim,” ungkap Xavi.

Alasan lain Messi bisa bersinar di Barca disebut karena superioritasnya atas pemain-pemain lawannya di Spanyol. Menurut pengakuan bek Atletico Madrid, Diego Godin, para pemain di La Liga begitu mengagumi Messi sehingga sebelum bertanding sudah mengalami ‘demam panggung’ .

“Para bek di Amerika Selatan mampu menjaganya lebih ketat. Di Spanyol, sebelum laga dimainkan, mereka [para lawan Messi] lebih memilih berfoto dengan Messi. Ini mungkin gurauan, tetapi itulah kenyataannya,” ucap Godin.

Tapi pernyataan tersebut tak sepenuhnya benar karena faktanya Messi sudah terbukti bisa bersinar di berbagai kompetisi menghadapi klub-klub di luar Spanyol, di Liga Champions misalnya.

Artinya, masalah utama Messi gagal bersinar bersama Argentina adalah performa tim secara keseluruhan. Soal kualitas Messi tak perlu menjadi pertanyaan. Argentina hanya perlu menjadi seperti Barca, yaitu tempat yang nyaman bagi sang ‘Juru Selamat’ agar ia bisa mengeluarkan daya magisnya.

Di luar masalah Lionel Messi, Sampaoli perlu mendapat kepercayaan untuk membangun timnya di Argentina dan butuh waktu untuk membuat timnya seperti Barcelona. Tapi ironisnya, Argentina terlalu sering melakukan pergantian pelatih dalam satu dekade terakhir. Dalam 13 tahun terakhir, Argentina telah melakukan pergantian pelatih sebanyak delapan kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *